Senin, 29 Mei 2017

Hubungan Teori Sastra, Kritik Sastra dan Sejarah Sastra

1)        Teori sastra (literary theory)
Wellek (1978:1) mendefinisikan teori sastra sebagai studi tentang prinsip-prinsip sastra, kategori, kriteria, dan lain-lain. Sementara Lye (dalam Musthafa, 2008:11) mendefinisikan teori sastra sebagai ilmu yang berusaha menjelaskan apa itu sastra, fungsi sastra, hubungan antara teks dengan pengarang, pembaca, bahasa, masyarakat, dan sejarah. Pemahaman terhadap teori sastra dalam lingkup ilmu sastra menjadi sebuah kebutuhan mutlak untuk dapat mendalami hakikat sastra itu sendiri. Bahkan, dalam usaha kajian/penelitian maupun kritik sastra, penguasaan teori sastra oleh peneliti atau pengkritik menjadi sebuah kewajiban agar kajian atau kritikannya benar-benar ilmiah dan objektif. Hal senada diungkapkan oleh Bennet dan Royle bahwa teori sastra menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam usaha meneliti atau mengkritik sastra (Wolfreys, 2001:1). Dengan teori sastra, kegiatan penelitian atau kritik sastra untuk menafsirkan sastra akan menjadi lebih jelas dan tepat. Demikian pula Fokkema dan Kunne-Ibsch (1977:1) yang memandang teori sastra dibutuhkan dalam usaha menginterpretasi atau menafsirkan teks sastra. Oleh sebab itu, semakin tepat teori yang digunakan oleh peneliti dalam menelaah atau menafsirkan karya sastra, semakin baik pula hasil penelitian atau kritiknya.
 
2)        Kritik sastra (literary criticism)
Istilah kritik atau criticism, menurut Abrams (1971:36), adalah cabang ilmu sastra yang secara khusus berhubungan dengan pendefinisian, pengklasifikasian, penguraian, dan penilaian terhadap karya sastra.
Yudiono (2009:35) menyatakan bahwa kritik sastra merupakan cabang ilmu sastra yang berhubungan dengan telaah kritis tentang karya sastra tertentu dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian terhadap karya-karya sastra, atau studi ilmiah yang berurusan dengan penilaian karya sastra.
Bressler dalam bukunya Literary Criticism : An Introduction to Theory and Practice (1999:4) berpendapat bahwa kritik sastra adalah sebuah disiplin yang berusaha mendeskripsikan, mempelajari, menganalisis, menghakimi, menginterpretasi, dan mengevaluasi sebuah karya seni.  Pandangan Bressler ini identik dengan pandangan Pradopo dalam bukunya Prinsip-Prinsip Kritik Sastra (1994:10) bahwa kritik sastra adalah ilmu sastra untuk “menghakimi” karya sastra, untuk memberikan penilaian, dan memberikan keputusan bermutu atau tidak sutau karya sastra yang sedang dihadapi kritikus.
 
3)        Sejarah sastra (literary history)
Hardjana (1991:36) menyatakan bahwa sejarah sastra adalah penyelidikan yang menghasilkan suatu gambaran dan susunan tentang perkembangan sastra sejak awal timbulnya di masa dulu sampai hidupnya di masa sekarang. Berbagai perkembangan kesastraan, baik yang berhubungan dengan genre/jenis, periodisasi, maupun perubahan estetika kesastraan tercatat dalam sejarah sastra. Oleh sebab itu, sejarah sastra membutuhkan teori sastra dan kritik sastra dalam usaha penelusuran berbagai perkembangan dan perubahan sastra.
Teori sastra memberikan dasar pemahaman kepada pembaca sastra, baik yang berupa berbagai konsep dasar tentang ciri-ciri, genre, sifat, fungsi, konvensi, aliran, dan berbagai teori kajian sastra. Dasar pemahaman ini merupakan modal utama bagi seorang kritikus untuk mengkritik sebuah karya sastra. Kritik sastra tidak akan objektif dan maksimal, tanpa dasar teori sastra yang kuat. Untuk itu, teori sastra sangat dibutuhkan oleh seorang kritikus untuk menelaah, mengkaji, dan menilai suatu karya sastra. Hasil kajian, telaah, dan penilaian kritik sastra dibutuhkan untuk penyusunan sejarah sastra. Dengan kritik sastra, dapat diketahui kecenderungan ciri estetika, intrinsik, maupun ekstrinsik dari suatu kelompok atau masa penciptaan karya sastra. Hal tersebut dijadikan dasar pengelompokan, pembabakan, atau periodisasi sejarah sastra. Demikian pula sebaliknya, hasil kajian dalam kritik sastra dan catatan sejarah sastra, dibutuhkan untuk pengembangan dan perkembangan teori sastra. Dengan demikian, antara teori sastra, kritik sastra, maupun sejarah sastra mempunyai hubungan yang erat dan saling membutuhkan.

Minggu, 21 Mei 2017

Hakikat sastra Anak

Pengertian dan Hakikat Sastra Anak 
Sastra adalah karya seni imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa, dapat berbentuk tertulis maupun lisan ( Rene Wellek, 1989 ), sedangkan anak adalah manusia yang masih kecil ( KBBI, 1988 : 31)
Ada beberapa yang menjadi ciri khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005). a)Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu. Setiap tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung. b)Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian. c)Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa. d)Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian. e)Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll). Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami anak-anak. f)Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama. Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik. g)Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sirsulk/pengertian-dan-ciri-sastra-anak_552ca9836ea834eb358b4594
Ada beberapa yang menjadi ciri khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005). a)Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu. Setiap tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung. b)Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian. c)Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa. d)Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian. e)Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll). Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami anak-anak. f)Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama. Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik. g)Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sirsulk/pengertian-dan-ciri-sastra-anak_552ca9836ea834eb358b
              Jadi secara sederhana istilah sastra anak dapat diartikan sebuah karya seni yang imajinatif dengan unsur estetisnya dominan dan bermediumkan bahasa, baik lisan maupun tulisan, yang dapat dipahami oleh anak – anak dan berisikan tentang dunia yang sangat dikenal oleh anak – anak.
Hakikat sastra anak adalah bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam alam kehidupan mereka.

Ada beberapa yang menjadi ciri khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005). a)Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu. Setiap tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung. b)Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian. c)Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa. d)Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian. e)Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll). Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami anak-anak. f)Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama. Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik. g)Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sirsulk/pengertian-dan-ciri-sastra-anak_552ca9836ea834eb358b4594



Ada beberapa yang menjadi ciri khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005). a)Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu. Setiap tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung. b)Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian. c)Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa. d)Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian. e)Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll). Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami anak-anak. f)Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama. Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik. g)Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sirsulk/pengertian-dan-ciri-sastra-anak_552ca9836ea834eb358b45Manfaat sastra anak
Manfaat sastra anak menurut Moody dan Leslie S. ( dalam Wardani, 1981 ) :
1   Melatih keempat ketrampilan berbahasa 
2   Menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup 
3   Membantu mengembangkan pribadi
4   Membantu pembentukkan watak 
5   Memberi kenyamanan 
6   Meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru

Manfaat sastra menurut Huck : 
1   Nilai personal : Memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkan pandangan ke arah persoalan kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional. 
2   Nilai pendidikan : Membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran dan kemahiran membaca, meningkatkan ketrampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra.

Ciri-ciri sastra anak
Ada beberapa yang menjadi ciri khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005). a)Tokoh yang terlibat dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu. Setiap tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung. b)Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar. Tujuan dari iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian. c)Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa. d)Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian. e)Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll). Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami anak-anak. f)Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama. Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik. g)Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sirsulk/pengertian-dan-ciri-sastra-anak_552ca9836ea834eb358b459
             Ada beberapa yang menjadi ciri khas dari sastra anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra dewasa. Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno (2009), Sarumpaet (2009), dan B. Nurgiyantoro (2005).
a) Tokoh yang terlibat  dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu.
Setiap tokoh yang berperan dalam cerita atau sastra anak diperkenalkan terlebih dahulu, sedangkan pada cerita remaja atau dewasa pengenalan tokoh dapat terjadi ketika cerita sedang berlangsung.
b) Dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar
Untuk sastra anak-anak, penceritaan diperkuat dengan gambar.
Tujuan dari iringan gambar pada penceritaan adalah untuk memperkuat penceritaan sehingga anak-anak lebih mudah memahami cerita. Selain itu kehadiran gambar adalah salah satu sarana untuk menarik perhatian.
c) Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Bahasa yang digunakan dalam penceritaan cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa.
d) Desain buku bacaan yang unik untuk menarik prhatian
Desain buku untuk anak-anak cenderung berbeda dengan buku-buku remaja, buku anak lebih menggunakan desain yang berbeda seperti bentuk yang menyerupai buah-buahan, atau dengan kombinasi warna yang menarik perhatian.
e) Penceritaan cenderung terkait dengan kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll).
Penceritaan selalu dikaitkan dengan kehidupan anak-anak, sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Meskipun penceritaan dalam bentuk fabel dan cerita fantasi, namun penceritaan tetap berpusat pada kehidupan yang dialami anak-anak.
f) Diakhir cerita selalu menggembirakan tokoh utama.
Penceritaan dalam sastra anak selalu berakhir dengan kegembiraan pada tokoh utama sebagai fokus penceritaan. Tidak hanya tokoh utama, tokoh antagonis dalam penceritaanpu selalu berakhir dengan sadar dan berubah dengan sifat baik.
g) Dikaitkan dengan psikologi perkembangan anak (Operasional konkret).
Penceritaan, penggambaran, latar, dll. Selalu dikaitkan dengan psikologi anak yang hanya dapat memahami sesuatu yang bersifat konkret.

Minggu, 07 Mei 2017

Permainan Anak-Anak

Sejarah Permainan Tali Merdeka
             Permainan Tali Merdeka adalah sebutan untuk mereka yang tinggal di Provinsi Riau. Di daerah yang masyarakatnya adalah pendukung kebudayaan Melayu ini ada sebuah permainan yang disebut sebagai tali merdeka. Inti dari permainan ini adalah melompat tali-karet yang tersimpul. Penamaan permainan ini ada kaitannya dengan tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan pemain itu sendiri, khususnya pada lompatan yang terakhir. Pada lompatan ini (yang terakhir), tali direnggangkan oleh pemegangnya setinggi kepalan tangan yang diacungkan keudara. Kepalan tangan tersebut hamper mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang ketika mengucapkan kata “merdeka”.
Gerakan tangan yang menyerupai simbol kemerdekaan itulah yang kemudian dijadikan sebagai nama permainan yang bersangkutan. Kapan dan dari mana permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti. Namun, dari nama permainan itu sendiri dapat diduga bahwa permainan ini muncul di zaman penjajahan.

Langkah-Langkah Permainan Tali Merdeka
              Untuk bermain permainan ini dibutuhkan minimal 4 orang anak. Pertama harus ada dua pemain yang jaga. Dan yang menjaga ini yang memegang karet di kedua belah sisi yang saling berhadapan. Pemain yang tidak jaga harus melompati karet tersebut. Biasanya untuk menentukan siapa yang jaga dilakukan hompimpa. Permainan lompat tali tergolong sederhana karena hanya melompati anyaman karet dengan ketinggian tertentu. Jika pemain dapat melompati tali-karet tersebut, maka ia akan tetap menjadi pelompat hingga merasa lelah dan berhenti bermain. Namun, apabila gagal sewaktu melompat, pemain tersebut harus menggantikan posisi pemegang tali hingga ada pemain lain yang juga gagal dan menggantikan posisinya.
Nah, pada permainan lompat tali ini para pelompat harus melompati beberapa posisi:
(1) tali berada pada batas lutut pemegang tali; pada posisi ini pelompat tidak boleh mengenai tali
(2) tali berada sebatas (di) pinggang (sewaktu melompat pemain masih tidak boleh mengenai tali karet sebab jika mengenainya, maka ia akan menggantikan posisi pemegang tali;
(3) posisi tali berada di dada pemegang tali (pada posisi yang dianggap cukup tinggi ini pemain boleh mengenai tali sewaktu melompat, asalkan lompatannya berada di atas tali dan tidak terjerat);
(4) posisi tali sebatas telinga;
(5) posisi tali sebatas kepala;
(6) posisi tali satu jengkal dari kepala; biasanya kita sering menyebutnya dengan posisi ‘kilan’
(7) posisi tali dua jengkal dari kepala atau posisi yang satu ini kita kenal dengan ‘dua kilan’; dan
(8) posisi tali seacungan atau hasta pemegang tali, nah posisi yang disebut dengan posisi ‘merdeka’

Manfaat Permainan Tali Merdeka
  • Motorik kasar
Main lompat tali merupakan suatu kegiatan yang baik bagi tubuh. Secara fisik anak jadi lebih terampil, karena bisa belajar cara dan teknik melompat yang dalam permainan ini memang memerlukan keterampilan sendiri. Lama-lama, bila sering dilakukan, anak dapat tumbuh menjadi cekatan, tangkas dan dinamis. Otot-ototnya pun padat dan berisi, kuat serta terlatih. Selain melatih fisik, mainan ini juga bisa membuat anak-anak mahir melompat tinggi dan mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Lompat tali juga dapat membantu mengurangi obesitas pada anak.
  • Emosi
Untuk melakukan suatu lompatan dengan ketinggian tertentu dibutuhkan keberanian dari anak. Berarti, secara emosi ia dituntut untuk membuat suatu keputusan besar, mau melakukan tindakan melompat atau tidak. Dan juga saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa dan bergerak.
  • Ketelitian dan Akurasi
Anak juga belajar melihat suatu ketepatan dan ketelitian. Misalnya, bagaimana ketika tali diayunkan, ia dapat melompat sedemikian rupa sehingga tidak sampai terjerat tali dengan berusaha mengikuti ritme ayunan. Semakin cepat gerak ayunan tali, semakin cepat ia harus melompat.
  • Sosialisasi
Untuk bermain tali secara berkelompok, anak membutuhkan teman yang berarti memberi kesempatannya untuk bersosialisasi sehingga ia terbiasa dan nyaman dalam kelompok. Ia dapat belajar berempati, bergiliran, menaati aturan dan yang lainnya.
  • Intelektual
Saat melakukan lompatan, terkadang anak perlu berhitung secara matematis agar lompatannya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dalam aturan permainan. Umpamanya, anak harus melakukan lima kali lompatan saat tali diayunkan, bila lebih atau kurang ia harus gantian menjadi pemegang tali. Anak juga secara tidak langsung belajar dengan cara melihat dari teman-temannya agar bisa mahir dalam melakukan permainan tersebut.
  • Moral
Dalam permainan tradisional mengenal konsep menang atau kalah. Namun, menang atau kalah tidak menjadikan para pemainnya bertengkar, mereka belajar untuk bersikap sportif dalam setiap permainan. Dan juga tidak ada yang unggul, karena setiap orang punya kelebihan masing-masing untuk setiap permainan, hal tersebut meminimalisir ego di diri anak-anak.

 Dimana Saja Permainan Ini Dimainkan??
        Permainan ini dimainkan diseluruh Indonesia

 Apakah Permainan Ini Bisa Dimainkan Didalam Kelas??
       Permainan ini tidak bisa dimainkan didalam kelas, tetapi bisa dimainkan dilapangan atau diluar kelas.

Sintaksis

frase verbal:
Bawang putih
ibu rumah tangga
sehari-hari

 frase nominal:
bawang
cabai
bahan dapur
makanan

frase numeralia:
20 persen
20 ribu perkilo
harga bawang putihsaatini adalah rp 45ribu perkilo